Saat ini
Samarinda sedang dalam proses berkembang untuk menjadi kota yang benar-benar
TEPIAN; teduh, rapi dan aman. Dari ketiga penggalan kata tadi yang saya rasakan
memang poin kedua Samarinda belum begitu baik atau tepatnya benar-benar sedang
dalam perkembangan. Untuk daerah kota seperti Samarinda masih banyak daerah
atau ruas jalan yang bikin kita warganya hanya bisa menggelengkan kepala saat
melihatnya. Untuk kerapian Samarinda memang belum begitu baik tapi ada harapan
untuk itu asal para warganya juga berniat menjaga kebersihan dan kerapian kota
ini.
Kata paling
baik menggambarkan Samarinda sekarang memang cocok disebut membangun diri. Kita
bisa liat Samarinda yang sekarang semakin tumbuh dibandingkan Samarinda yang
satu atau dua tahun sebelumnya. Saya boleh jujur, itu menyenangkan sekali. Dari
segi infrastuktur jalan misalnya, sudah di mulai proses penambahan ruas jalan
di daerah Muara Teluk Lerong. Saya melihat sketsa yang dipajang pada seng-seng
penghalang itu saja sudah bisa memperkirakan bahwa ini ketika rampung nanti
akan semakin menambah panorama sungai dan ruas jalan kota yang semakin terlihat
tertata. Biar semakin jelas bahwa Samarinda adalah kota yang tak kalah hiruk
pikuk tetapi tetap tau bahwa alam punya peran hebat yang perlu terus dijaga.
Siapapun tentu tidak mau melihat sungai Mahakam turun ke jalan raya karena
kebiasaan buruk buang sampah sembarangan.
Dalam
usaha Samarinda untuk terus menata diri saya merasakan dan melihat itu. Saya mendengar
ucapan dari warga asli Samarinda yang dengan gampangnya meremehkan apa yang
sedang coba dibangun di sini. Salah seorang teman yang kuliah di luar kota atau
spesifiknya pulau Jawa pernah mengatakan bahwa Samarinda jauh tertinggal dengan
kota-kota yang ada di sana. Terlalu banyak hal yang ada di sana tapi belum ada
di Samarinda. Mungkin benar pandangan semacam ini kalau saja tidak dibuat
keliru. Samarinda memang perlu patokan untuk menakar diri sejauh apa telah
berjalan. Justru yang sering kali keliru adalah sikap (mindset) dari para warga di sini yang terlanjur psimis Samarinda
tidak mampu semaju kota-kota yang berada di pulau Jawa. Padahal tidak ada
salahnya untuk percaya pada tanah borneo ini.
Mereka yang
kurang percaya terhadap apa yang telah diusahakan pemerintah kota Samarinda
dengan terang-terangan berusaha psimis. Ini tak ubahnya seperti peran seorang
Ayah yang telah banting tulang agar para anaknya dapat tumbuh dengan nyaman
tetapi si anak malah lebih membanggakan Ayah gang sebelah. Saya sendiri sangat
percaya bahwa Samarinda setidaknya selalu bisa lebih berkembang dan lebih
nyaman untuk ditinggali.
Saya pun
bukan tidak membandingkan Samarinda dengan kota-kota lain. Ketika keluar kota
atau yang jauh lebih murah menonton televisi acara jalan-jalan saya sering
dibuat iri sendiri dengan ketersidiaan dan kemudahan yang ada di kota-kota
luar. Saya juga bergumam kepada diri sendiri, kira-kira kapan Samarinda bisa
seberkembang itu. Tapi layaknya doa kita warga Samarinda harus bisa percaya
pada apa yang sedang diusahakan kota ini untuk kita. Karena itu yang saya liat,
saat seseorang mulai membandingkan sadar atau tidak sadar selalu ada mata pisau
yang mengancam alam bawah sadar kita untuk tidak percaya pada diri sendiri
kecuali kita mampu jeli.
Saya
berandai-andai kalau saja Samarinda dan semua kota lainnya di Indonesia itu
sama mungkin wisatawan lokal sudah dapat dihitung hanya dengan batangan satu
kemasan rokok. Sudah tidak ada lagi yang mau jalan-jalan keluar kota karena
semua terasa sama dan tidak ada bedanya. Wisatawan asing sudah malas datang
karena Indonesia begitu-begitu saja semua kotanya. Saya juga tak habis pikir
kenapa membayangkan hal yang mengerikan begini. Tapi untung saja Indonesia tidak
akan bisa jadi seperti itu karena kita sama-sama tau Indonesia ragam akan
budaya dan kekayaan alam. Setiap daerah kota punya ciri khasnya masing-masing.
Itu kenapa sepatutnya kita bersyukur karena Samarinda bisa jadi dirinya sendiri
dan kita dapat berbangga membangun Kalimantan Timur. Samarinda butuh cinta dari
kita para warganya.
Kita itu
satu Samarinda, satu sama bangga.

No comments:
Post a Comment