Thursday, 24 July 2014

Sama-Sama Bisa Demi Samarinda





Saya besar dan lahir di Samarinda. Sebuah kota yang sampai sekarang saya liat terus berusaha membangun dirinya sendiri. Mencoba memanfaatkan kekayaan alam yang sudah melimpah ruah. Ada banyak potensi Samarinda yang bisa terus dikembangkan. Kota yang saya pikir bisa jadi kebanggaan buat semua rakyat Kalimantan Timur. Saya suka Samarinda dengan apa yang seutuhnya dimiliki kota ini. Salah satu diantaranya berupa kerajinan tangan khas kota sini. Dalam suasana Ramadhan seperti ini misalnya ada kerajinan tangan khas yang bernuansa agama seperti songkok dan sarung khas Samarinda. Ada yang ingin saya bahas mengenai songkok khas Samarinda yang bisa dipakai buat beribadah bagi umat islam ini.

Menarik sebenarnya kalau kita melihat keunggulan songkok. Selain sering digunakan saat menjalankan ibadah bagi umat islam, songkok pun masih bisa dipakai untuk acara-acara yang bersifat formal. Saya pikir songkok cukup fleksibel jika dibandingkan dengan sarung. Untuk beberapa keadaan biasanya sarung hanya digunakan untuk perlengkapan ibadah. Songkok khas Samarinda yang saya tau memang hanya punya dua motif, yang pertama motif serupa sarung khas Samarinda lalu motif yang kedua khas batik Samarinda. Untuk motif yang kedua saya menilainya lebih menantang jika dibandingkan motif yang pertama yang bisa dinilai lebih elegan.


Kedua gambar dipinjam dari eastkalimantancenter.blogspot.com

Jadi pernah pada akhir tahun 2012 ketika itu bapak saya sedang berulang tahun dan saya menghadiahi beliau sebuah songkok khas Samarinda. Awalnya saya pikir dengan memberikan songkok ini sebagai hadiah maka mungkin bisa ditambahkan sebagai songkok yang dipakai bapak saat sholat di masjid atau bersantai di rumah. Bapak sendiri sebenarnya punya banyak jenis songkok. Songkok hitam ala penghulu beliau punya sampe songkok khas kebesaran daerah bugis yang selalu jadi andalan beliau setiap ada acara keluarga. Bapak sendiri memang bukan orang Samarinda asli beliau seorang perantau dari Sulawesi Selatan tepatnya berada di Kabupaten Bone yang sekarang sudah 20 tahun lebih bermukim di Samarinda. Namun jika dibandingkan dengan songkok-songkok koleksi beliau songkok yang saya berikan memang tidak ada apa-apanya tapi saya harap tetap punya ciri khas untuk beliau pakai.

Ini songkok khas Samarinda yang saya hadiahkan ke bapak pada ulang tahun beliau yang ke 47.

Sampai sekarang sudah hampir 2 tahun saat saya menghadiahkan songkok itu kepada bapak dan saya bisa hitung hanya berapa kali saja bapak memakai songkok ini. Saya tau persis cara menghargai pemberian orang lain dan itu saya belajar penuh dari figur seorang bapak. Jadi mana mungkin beliau tidak menghormati hadiah pemberian saya. Pasti ada satu alasan kenapa beliau jarang memakai songkok ini. Setelah mencoba mencari tahu dan menganalisa beberapa alasan kemudian saya –maaf agak lancang menyimpulkan bahwa bapak bukan tidak menyukai modelnya melainkan jarang ada Bapak-Bapak lain yang memakai songkok sejenis ini, tepatnya songkok khas Samarinda. Dan mungkin ada gengsi seorang Bapak-Bapak yang masih belum saya mengerti. Dan tentu ini ada yang salah.

Seperti pada bulan Ramadhan ini misalnya belum pernah saya temui orang-orang yang benar-benar memakai songkok ini saat teraweh. Saat saya sholat di Masjid Shiratal Mustaqiem misalnya, saya sama sekali tidak menemui orang-orang yang memakai songkok khas Samarinda. Padahal tak jauh dari masjid ini ada Jalan Bendahara yang jadi pusat pertenunan di Samarinda. Paling tidak saya pikir ada beberapa warga yang punya songkok khas semacam itu. Tapi seperti apa yang saya analisa, kebanyakan malu-malu.

Saya menilai desain songkok khas Samarinda yang bermotif kotak-kotak sarung Samarinda ini tidak terlalu buruk. Motif ini seperti yang saya bilang diawal justru terlihat elegan. Jadi kalau dianggap faktor kurang esksinya songkok ini di masyarakat karena faktor desain saya anggap itu sanggahan yang lemah. Justru saya melihat pokok masalahan dari ini adalah kesadaran warga Samarinda yang masih kurang menyukai songkok khas kota ini. Yang dimana secara tidak langsung berdampak saat menggunakan kerajinan tangan khas kota ini warga jadi malu-malu. Itu yang saya pikir terjadi pada bapak saya dan Bapak-Bapak lainnya di Samarinda. Maksud saya bukan hanya bapak-bapak tapi juga kita yang mengaku muda atau kita yang mengaku warga Samarinda. Jadi bukannya apa, inti dari saya menulis repot-repot tentang ini adalah kekhawatiran saya akan barang khas Samarinda yang mana ditanahnya sendiri dia tidak dikenal.

Kesadaran kita sebagai warga Samarinda terhadap hal ini sepertinya masih rendah. Padahal meski diisi beragam suku Samarinda sudah punya budaya yang bisa dinikmati semua golongan tanpa perlu membedakan etnis, adat, bahasa, warna kulit bahkan agama sekalipun. Entah mungkin juga karena ada faktor penghalang semacam ekonomi atau apa yang membuat ini jadi sulit eksis. Sudah banyak sebenarnya toko-toko khas Samarinda yang menjual barang semacam ini. Setidaknya kita bisa coba untuk belajar mencintai dan menghargai kebudayaan Samarinda. Bisa kita mulai pada diri kita sendiri dulu. Semoga kita sama-sama bisa demi Samarinda.

Dan saya harap bapak saya setuju soal ini.

No comments:

Post a Comment