Saya besar
dan lahir di Samarinda. Sebuah kota yang sampai sekarang saya liat terus berusaha
membangun dirinya sendiri. Mencoba memanfaatkan kekayaan alam yang sudah melimpah
ruah. Ada banyak potensi Samarinda yang bisa terus dikembangkan. Kota yang saya
pikir bisa jadi kebanggaan buat semua rakyat Kalimantan Timur. Saya suka
Samarinda dengan apa yang seutuhnya dimiliki kota ini. Salah satu diantaranya
berupa kerajinan tangan khas kota sini. Dalam suasana Ramadhan seperti ini
misalnya ada kerajinan tangan khas yang bernuansa agama seperti songkok dan
sarung khas Samarinda. Ada yang ingin saya bahas mengenai songkok khas
Samarinda yang bisa dipakai buat beribadah bagi umat islam ini.
Menarik
sebenarnya kalau kita melihat keunggulan songkok. Selain sering digunakan saat
menjalankan ibadah bagi umat islam, songkok pun masih bisa dipakai untuk
acara-acara yang bersifat formal. Saya pikir songkok cukup fleksibel jika
dibandingkan dengan sarung. Untuk beberapa keadaan biasanya sarung hanya
digunakan untuk perlengkapan ibadah. Songkok khas Samarinda yang saya tau memang
hanya punya dua motif, yang pertama motif serupa sarung khas Samarinda lalu motif
yang kedua khas batik Samarinda. Untuk motif yang kedua saya menilainya lebih
menantang jika dibandingkan motif yang pertama yang bisa dinilai lebih elegan.
| Kedua gambar dipinjam dari eastkalimantancenter.blogspot.com |
Jadi pernah
pada akhir tahun 2012 ketika itu bapak saya sedang berulang tahun dan saya
menghadiahi beliau sebuah songkok khas Samarinda. Awalnya saya pikir dengan
memberikan songkok ini sebagai hadiah maka mungkin bisa ditambahkan sebagai songkok
yang dipakai bapak saat sholat di masjid atau bersantai di rumah. Bapak sendiri
sebenarnya punya banyak jenis songkok. Songkok hitam ala penghulu beliau punya
sampe songkok khas kebesaran daerah bugis yang selalu jadi andalan beliau
setiap ada acara keluarga. Bapak sendiri memang bukan orang Samarinda asli
beliau seorang perantau dari Sulawesi Selatan tepatnya berada di Kabupaten Bone
yang sekarang sudah 20 tahun lebih bermukim di Samarinda. Namun jika
dibandingkan dengan songkok-songkok koleksi beliau songkok yang saya berikan
memang tidak ada apa-apanya tapi saya harap tetap punya ciri khas untuk beliau
pakai.
![]() |
| Ini songkok khas Samarinda yang saya hadiahkan ke bapak pada ulang tahun beliau yang ke 47. |
Sampai
sekarang sudah hampir 2 tahun saat saya menghadiahkan songkok itu kepada bapak dan
saya bisa hitung hanya berapa kali saja bapak memakai songkok ini. Saya tau
persis cara menghargai pemberian orang lain dan itu saya belajar penuh dari figur
seorang bapak. Jadi mana mungkin beliau tidak menghormati hadiah pemberian
saya. Pasti ada satu alasan kenapa beliau jarang memakai songkok ini. Setelah
mencoba mencari tahu dan menganalisa beberapa alasan kemudian saya –maaf agak
lancang menyimpulkan bahwa bapak bukan tidak menyukai modelnya melainkan jarang
ada Bapak-Bapak lain yang memakai songkok sejenis ini, tepatnya songkok khas
Samarinda. Dan mungkin ada gengsi seorang Bapak-Bapak yang masih belum saya
mengerti. Dan tentu ini ada yang salah.
Seperti
pada bulan Ramadhan ini misalnya belum pernah saya temui orang-orang yang
benar-benar memakai songkok ini saat teraweh. Saat saya sholat di Masjid
Shiratal Mustaqiem misalnya, saya sama sekali tidak menemui orang-orang yang
memakai songkok khas Samarinda. Padahal tak jauh dari masjid ini ada Jalan
Bendahara yang jadi pusat pertenunan di Samarinda. Paling tidak saya pikir ada
beberapa warga yang punya songkok khas semacam itu. Tapi seperti apa yang saya
analisa, kebanyakan malu-malu.
Saya
menilai desain songkok khas Samarinda yang bermotif kotak-kotak sarung
Samarinda ini tidak terlalu buruk. Motif ini seperti yang saya bilang diawal
justru terlihat elegan. Jadi kalau dianggap faktor kurang esksinya songkok ini
di masyarakat karena faktor desain saya anggap itu sanggahan yang lemah. Justru
saya melihat pokok masalahan dari ini adalah kesadaran warga Samarinda yang
masih kurang menyukai songkok khas kota ini. Yang dimana secara tidak langsung
berdampak saat menggunakan kerajinan tangan khas kota ini warga jadi malu-malu.
Itu yang saya pikir terjadi pada bapak saya dan Bapak-Bapak lainnya di
Samarinda. Maksud saya bukan hanya bapak-bapak tapi juga kita yang mengaku muda
atau kita yang mengaku warga Samarinda. Jadi bukannya apa, inti dari saya
menulis repot-repot tentang ini adalah kekhawatiran saya akan barang khas
Samarinda yang mana ditanahnya sendiri dia tidak dikenal.
Kesadaran kita
sebagai warga Samarinda terhadap hal ini sepertinya masih rendah. Padahal meski
diisi beragam suku Samarinda sudah punya budaya yang bisa dinikmati semua
golongan tanpa perlu membedakan etnis, adat, bahasa, warna kulit bahkan agama
sekalipun. Entah mungkin juga karena ada faktor penghalang semacam ekonomi atau
apa yang membuat ini jadi sulit eksis. Sudah banyak sebenarnya toko-toko khas
Samarinda yang menjual barang semacam ini. Setidaknya kita bisa coba untuk
belajar mencintai dan menghargai kebudayaan Samarinda. Bisa kita mulai pada
diri kita sendiri dulu. Semoga kita sama-sama bisa demi Samarinda.
Dan saya
harap bapak saya setuju soal ini.


No comments:
Post a Comment